• Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Term of Service
  • FAQ
Kotomono.co
  • Login
  • Register
  • ESAI
  • NYAS-NYIS
  • OTOMONO
  • DUNIA GAME
  • K-Popers
  • OH JEBULE
  • FIGUR
  • PLESIR
  • NGULINER
  • LAINNYA
    • KILASAN
    • PUSTAKA
    • KEARIFAN LOKAL
    • UMKM
    • NGABUBURIT
    • NYASTRA
    • EDUKASI
    • RELEASE
No Result
View All Result
  • ESAI
  • NYAS-NYIS
  • OTOMONO
  • DUNIA GAME
  • K-Popers
  • OH JEBULE
  • FIGUR
  • PLESIR
  • NGULINER
  • LAINNYA
    • KILASAN
    • PUSTAKA
    • KEARIFAN LOKAL
    • UMKM
    • NGABUBURIT
    • NYASTRA
    • EDUKASI
    • RELEASE
No Result
View All Result
Kotomono.co
No Result
View All Result
  • ESAI
  • NYAS-NYIS
  • OTOMONO
  • DUNIA GAME
  • K-Popers
  • OH JEBULE
  • FIGUR
  • PLESIR
  • NGULINER
  • LAINNYA
Ratu Literasi Kota Pekalongan

Ilustrasi: Acong Suwardhi/Kotomonodotco

Satu Negeri Banyak Ratu

“Ratu Literasi” sepertinya akan memberikan sumbangan besar bagi istilah keratuan di negeri ini.

Ribut Achwandi by Ribut Achwandi
November 24, 2021
in NYAS-NYIS
0
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Ratuné ratu utama
patih
é patih linuwih
pra nayaka tyas raharja
panekar
é becik-becik
parand
éné tan dadi
paliyasing kalabendu
Malah sangkin andadra
rub
éda kang ngreribedi.
B
éda-béda hardané wong sanagara.

KOTOMONO.CO – Tembang macapat Sinom tersebut dinukil dari Serat Kalatidha karya pujangga Jawa terakhir, R.Ng. Ranggawarsita, yang ditulis sebagai ungkapan rasa prihatin atas fenomena sosial-politik yang menyelimuti kekuasaan Jawa. Perilaku rame ing pamrih di kalangan para pembesar Jawa kala itu menjadi-jadi.

Demi gengsi, mereka rela berbuat “gila” untuk mendapatkan kedudukan. Saling sikut, saling sikat, dan saling menjegal adalah pemandangan yang dianggap lumrah. Sampai-sampai, apa yang menjadi tanggung jawab mereka sebagai pengayom rakyat terabaikan.

Namun, saya tidak sedang ingin mengkaji Serat Kalatidha. Kajian tentang serat ini sudah lebih dari ratusan atau bahkan ribuan. Kajian-kajian itu tersedia di berbagai media, baik berupa jurnal penelitian maupun media-media online. Buku-buku yang menyajikan kajian Serat Kalatidha juga banyak.

Yang ingin saya ulas hanya salah satu bagian kecil dari Serat Kalatidha. Yaitu, penggunaan kata “ratu” dalam Serat Kalatidha. Kira-kira apa yang Anda tangkap dari penggunaan kata “ratu”?

Mungkin, bagi sebagian besar orang—termasuk orang Jawa (masa kini), akan mengidentikkan kata “ratu” dalam kutipan tersebut sebagai seorang permaisuri, raja perempuan, atau istri raja. Ya kan?

BACA JUGA: Ratu Sima dan Nama Panggilan “Ibu” Orang Pekalongan

Memang, anggapan itu tidak bisa disalahkan, sebab kata “ratu” dalam terminologi bahasa Indonesia memiliki arti sebagai (1) raja perempuan; permaisuri, (2) perempuan pemenang perlombaan yang menyangkut kegiatan khas kewanitaan, (3) perempuan yang paling menonjol dalam bidangnya, dan (4) sebutan untuk anak perempuan sultan Cirebon. Untuk memastikannya, silakan cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia, baik dalam bentuk cetakan maupun versi daring.

Terjemahan bahasa Indonesia tersebut menunjukkan, bahwa kata “ratu” memiliki makna khusus. Yaitu, hanya berlaku bagi perempuan. Namun, penerjemahan tersebut tidak serta merta memosisikan kata “ratu” sebagai kata yang berkategori feminin. Mengapa? Karena di dalam bahasa Indonesia tidak mengenal pengkategorian kata berdasarkan jenis kelamin. Tidak seperti bahasa Jerman, Arab, Sanskerta, dan lain-lain.

Sementara, dalam terminologi bahasa Jawa, kata “ratu” tidak sespesifik bahasa Indonesia. Bahasa Jawa, yang berakar dari bahasa Jawa Kawi/Kuno, mendudukan kata “ratu” searti dengan raja atau pemimpin suatu kelompok/bangsa. Kata “ratu” tidak identik dengan jenis kelamin tertentu.

Dalam beberapa teks kuno menyebutkan raja dengan istilah “ratu”. Misal, pada prasasti Canggal, tertulis “Rake Mataram Sang Ratu Sanjaya” untuk menyebut raja pertama Mataram Hindu. Begitu pula gelar Ratu Angabhaya yang disematkan bagi Mahisa Campaka, raja dari Kerajaan Singhasari. Kedua tokoh tersebut berjenis kelamin laki-laki, sekalipun digelari “ratu”.

BACA JUGA: Kerja Baik Satpol PP Kota Pekalongan Perlu Kita Apresiasi Setinggi-tingginya

Begitu pula dalam beberapa ungkapan Jawa, seperti “adoh ratu cedhak watu”, “sabda pandhita ratu”, “lèngsèr keprabon madhep pandhita ratu”, dan sebagainya. Kata “ratu”, dalam ungkapan-ungkapan Jawa itu masih memperlihatkan kecenderungan makna yang sifatnya sangat umum. Menempatkan kata “ratu” sebagai kata yang tidak dispesifikkan ke dalam jenis feminin.

Konon, istilah “ratu” merupakan kosakata khas nusantara. Khususnya, bahasa Jawa. Tak heran jika di dalam terminologi kekuasaan Jawa dikenal istilah Keraton. Istilah ini terbentuk oleh afiksasi “ka-an”; ka-ratu-an. Dalam pengucapannya kemudian, bunyi diftong [ua] dilebur menjadi [o]. Peleburan bunyi ini dirasa memudahkan pengucapannya. Kata “keraton” atau “kraton” sendiri memiliki makna tempat tinggal bagi ratu. Namun, dalam perkembangannya juga diterjemahkan sebagai sebuah sistem kekuasaan.

Kata “ratu” juga berkerabat dekat dengan kata datu, adhipati, aji, bhūpāIa, bhupati, narādhipa, naradhipati, naranatha, narapati, narendra, nātha, nṛpa, nṛpati, pati, dan sebagainya. Khusus kata “datu”, pada mulanya digunakan sebagai gelar penguasa. Sebagaimana dalam sejarah nusantara, terdapat beberapa kedatuan. Misal, Kedatuan Sriwijaya, Giri Kedaton (Kedatuan Giri), Kedatuan Luwu, dan sebagainya.

Jika demikian, penerjemahan istilah “ratu” dalam bahasa Indonesia sangat mungkin merupakan bentuk pergeseran atau penyempitan makna. Akan tetapi, sejak kapan penyempitan makna itu terjadi? Konon pula, penyempitan makna kata “ratu” bermula dari penggunaan istilah “raja” yang marak terjadi bersamaan dengan membesarnya pengaruh Hindu dalam kebudayaan nusantara.

BACA JUGA: Merayakan Kemesraan Pemkot Pekalongan dengan Wartawan Lokal

Istillah “raja” dalam bahasa Sanskerta diartikan sebagai pemimpin laki-laki sebuah bangsa. Sementara, istri seorang raja tidak bergelar ratu, melainkan rani. Dan, sejak digunakannya istilah “raja” sebagai gelar, maka istilah “ratu” pun tergeser dan akhirnya, disematkan kepada istri raja.

Kini, sekalipun sistem kenegaraan di negeri ini sudah tidak lagi menganut sistem Keraton, Kedatuan, atau Kesultanan, nampaknya istilah itu masih dipertahankan. Hanya, mengalami penyempitan yang semakin sempit lagi.

Istilah “ratu” kemudian diartikan seperti dalam KBBI pada pemaknaan kedua dan ketiga. Yaitu, perempuan pemenang perlombaan yang menyangkut kegiatan khas kewanitaan atau perempuan yang paling menonjol dalam bidang tertentu. Misalnya, Ratu Dangdut, Ratu Kebaya, Ratu Joget, Ratu Kecantikan, dan tentu jika diurutkan lagi masih akan ada banyak lagi ratu-ratu yang lain.

Bahkan, baru-baru ini, muncul istilah baru di sebuah laman berita, “Ratu Literasi”. Sepertinya, istilah ini akan memberikan sumbangan besar bagi istilah keratuan di negeri ini. Semoga saja demikian.

BACA JUGA: Menumbuhkan Gerakan Literasi Tak Cukup dengan Gerakan Membaca

Dengan peristilahan itu, para pegiat literasi di seluruh negeri ini pastinya akan menyambut gembira karena memiliki ratu. Yang artinya, akan memiliki seorang pemimpin di bidang literasi. Dan, karena istilah “ratu” yang Jawasentris, maka kepemimpinan ratu pun mesti berpijak pada konsep kepemimpinan rasa. Kepempimpinan yang mengedepankan kepekaan rasa di dalam memayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dari tata semesta raya yang sudah sedemikian indah ini.

 

Baca Tulisan-tulisan Menarik dari Ribut Achwandi Lainnya

Tags: BahasaBahasa IndonesiaBahasa JawaBahasa Jawa KawiGerakan LiterasiNyas-NyisPemkot PekalonganR.Ng. RanggawarsitaRatu LiterasiSerat Kalatidha

Mau Ikutan Menulis?

Kamu bisa bagikan esai, opini, pengalaman, uneg-uneg atau mengkritisi peristiwa apa saja yang bikin kamu mangkel. Karya Sastra juga boleh kok. Sapa tahu kirimanmu itu sangat bermanfaat dan bisa dibaca oleh jutaan orang. Klik Begini caranya


Ribut Achwandi

Ribut Achwandi

Kepala Redaksi
Ngedanlah asal nggak bikin orang lain jadi edan.

Sapa Tahu, Tulisan ini menarik

Batik TV Kota Pekalongan

Yakin Deh, Cuma Program Batik TV Ini yang Nggak Mengecewakan

Juni 21, 2022
216
Berita Walikota Pekalongan

Saya yang Walikota Menjawab Kritik Saya yang Tukang Kritik

Juni 8, 2022
237
THR dan Buruh di Indonesia

THR Penting juga bagi Perusahaan, Nggak Cuma bagi Buruh

April 16, 2022
163
Cara mudah belajar membaca dan menulis Aksara Jawa

Cara Mudah Belajar Membaca dan Menulis Aksara Jawa Nglegena

April 14, 2022
295
Politik Pangkon Walikota Afzan Arslan Djunaid

Politik “Pangkon” Ala Mas Walikota Aaf

April 5, 2022
184
Banjir Rob Pekalongan

Banjir Pekalongan Tak Pernah Tuntas Kalau yang Diajak Ngobrol Cuma Elite

Maret 31, 2022
208
Load More


Ada Informasi yang Salah ?

Silakan informasikan kepada kami untuk segera diperbaiki. Pliss "Beritahu kami" Terima kasih!


TERBARU

Menteri PPPA: RUU KIA Tak Menimbulkan Diskriminasi Gender

Kepulangan Jamaah Haji Indonesia Sempat Dilanda Badai Pasir

Mobil Tiba-Tiba Mati dan Tidak Bisa Distarter? Cek Cara Ini

Cobain yuk! 8 Game Balap Mobil Android Offline yang Asyik

7 Alternatif Wisata Anak dan Keluarga di Bali yang Bagus Buat Edukasi

Joko Anwar Jamin Pengabdi Setan 2 Lebih Mencekam

5 Rekomendasi Hotel Keluarga di Bali yang Berlokasi Strategis Dibawah 1 Juta Rupiah

LAGI RAME

Wisata Tegal - Villa Guci Forest

Wisata Hits Terbaru Tegal di Villa Guci Forest

Mei 17, 2022
7.3k
Baron Sceber Rogoselo

Legenda Baron Sekeber Desa Rogoselo

Januari 10, 2016
14.3k
Wisata Jepara - Karimun Jawa

18 Wisata Hits Jepara Terbaru 2022 Wajib Kamu Kunjungi

April 10, 2022
1.6k
Legenda Dewi Lanjar Pantai Utara

Kisah Legenda Asal-usul Dewi Lanjar

Agustus 12, 2016
35.5k
Tari batik Jlamprang Pekalongan

Kesenian Tari Batik Jlamprang Pekalongan

November 22, 2015
5.9k
Tradisi Syawalan Balon Udara Pekalongan

5 Tradisi Syawalan di Pekalongan yang Sayang Untuk Dilewatkan

Mei 7, 2022
8.3k
Burung Kicau Terbaik 2022

Ini Lho 7 Burung Kicau yang Menjadi Primadona di Tahun 2022

Juni 16, 2022
1.4k
Kepulangan Jamaah Haji Indonesia Sempat Dilanda Badai Pasir

Kepulangan Jamaah Haji Indonesia Sempat Dilanda Badai Pasir

Agustus 10, 2022
152
Resep-Membuat-Megono-Pekalo

Resep dan Cara Membuat Megono Khas Pekalongan

Desember 19, 2018
27.8k
Resep Tauto Pekalongan

Sejarah Asal-Usul Tauto Pekalongan

November 21, 2017
1.5k

TENTANG  /  DISCLAIMER  /  KERJA SAMA  /  KRU  /  PEDOMAN MEDIA SIBER  /  KIRIM ARTIKEL

© 2021 KOTOMONO.CO - ALL RIGHTS RESERVED.
DMCA.com Protection Status
No Result
View All Result
  • ESAI
  • NYAS-NYIS
  • OTOMONO
  • DUNIA GAME
  • K-POPers
  • OH JEBULE
  • FIGUR
  • NGULINER
  • PLESIR
  • PUSTAKA
  • LAINNYA
    • KILASAN
    • KEARIFAN LOKAL
    • UMKM
    • NGABUBURIT
    • NYASTRA
    • EDUKASI
    • RELEASE
  • Mau Kirim Tulisan?
  • Login
  • Sign Up

Kerjasama, Iklan & Promosi, Contact : 085326607696 | Email : advertise@kotomono.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In