KOTOMONO.CO – Istri Walikota Pekalongan, Inggit Soraya dikukuhkan sebagai Bunda Literasi. Kalau bidang lain gimana, Bu? Bidang-bidang ini butuh sosok bunda juga nih!
Belum lama ini, istri orang nomor satu di Kota Pekalongan dinobatkan sebagai Bunda Literasi Kota Pekalongan. Inggit Soraya dinobatkan sebagai Bunda Literasi secara langsung oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando. Penobatan ini begitu penting, utamanya untuk meningkatkan indeks literasi di Kota Batik.
Patut diakui, walaupun Kota Pekalongan memiliki 355 perpustakaan, itu bukan berarti Pekalongan layak disebut sebagai kota dengan indeks literasi yang baik. Bisa jadi, dari 355 perpustakaan itu ada yang tak beroperasi, atau masih beroperasi tapi nggak ada yang membaca buku di sana.
Maka, pengukuhan istri walikota sebagai Bunda Literasi sangatlah krusial. Anda tentu tak perlu bertanya kenapa justru Bunda Literasi bukan Ayah Literasi? Jawabannya jelas, pemakaian bunda memiliki makna filosofis yang dalam.
Bunda digambarkan sebagai sosok perempuan yang tangguh. Ia sukses melahirkan anak dan bertarung dengan antara hidup dan mati di ruang bersalin. Bunda juga punya kemampuan mengayomi anaknya, berbeda dengan ayah yang notabene sibuk mencari uang.
Maka dari itu, lebih memilih Bunda Literasi ketimbang Ayah Literasi tentu punya pesan kuat. Secara tidak langsung tujuan dikukuhkannya Bunda Literasi ini adalah agar ia mampu mengayomi. Khususnya, buat orang-orang yang bergerak di dunia literasi.
BACA JUGA: Menyambut Baik Dewas Batik TV yang Surprise Banget!
Ibarat kata penggerak literasi adalah anaknya, sedangkan Inggit Soraya, sebagai Bunda Literasi akan mengayomi, menyayangi, dan boleh jadi memenuhi kebutuhan anak-anaknya tersebut. Mungkin karena sifat kebundaan itulah, Inggit Soraya berpesan agar keluarga juga berperan aktif dalam peningkatan literasi.
Menimbang hal itu, saya jadi berniat mengusulkan istri walikota untuk pula diangkat menjadi bunda di bidang lain. Tentu bukan cuma bidang literasi yang membutuhkan sosok seorang bunda. Bahkan bidang-bidang berikut ini pun justru lebih membutuhkan sosok bunda.
#1 Bunda Masker
Kendati pandemi belum juga usai, tapi masyarakat Kota Pekalongan, soal protokol kesehatan masih abai. Beberapa ‘oknum’ masyarakat yang saya temui masih banyak yang tidak memakai masker. Nggak usah jauh-jauh, bahkan saya sendiri pun males memakai masker.
Pemkot Pekalongan memang telah melakukan upaya-upaya agar warga taat protokol kesehatan, termasuk sampai mengerahkan Satpol PP. Kita perlu mengapresiasi langkah-langkah tersebut. Walaupun kita tahu, hal itu bagaikan memasak mi rebus tapi nggak pakai air.
Barangkali para pelanggar protokol kesehatan itu nggak mempan dikasih tahu oleh Satpol PP. Mungkin karena para Satpol PP itu adalah laki-laki berbadan kekar yang, paling-paling sekadar kasih teguran dan hukuman.
Menegur dan memberi hukuman ini nggak menjamin pelanggar protokol kesehatan itu sadar. Butuh penegur yang punya rasa welas asih. Sebab, memberi nasehat dengan cara kasih sayang ini, menurut beberapa penelitian, efektif menyadarkan seseorang.
Nah, di situlah sosok Bunda Masker sangat dibutuhkan. Selain menjadi Bunda Literasi, saya kira seorang Inggit Soraya juga pantas menjadi Bunda Masker. Soal siapa yang mengukuhkan, serahkan pada Duta Masker Nasional saja.
#2 Bunda Lalu Lintas
Meskipun termasuk kota kecil, lalu lintas di Kota Batik lumayan padat. Kepadatan lalu lintas itupun beberapa kali bikin jalanan di Kota Batik semrawut. Penyebabnya, bisa dari ‘atraksi’ pengendara motor yang melanggar lalu lintas.
Saat sudah di jalan raya, banyak pengendara—utamanya motor—yang ‘mendaulat’ diri sebagai Marc Marquez atau Andrea Dovizioso. Kemarin saja, saya menemukan orang yang, kendati lampu merah tetap berbelok manja laiknya Valentino Rossi di tikungan-tikungan akhir.
BACA JUGA: Jalan Hayam Wuruk Bakal Dua Arah Lagi, Ide Brilian tapi Nanggung Ala Pemkot Pekalongan
Peringatan dari aparat lalu lintas tentu sudah sesering iklan Shopee COD di YouTube. Surat tilang yang dilayangkan juga mungkin jumlahnya berkejaran dengan episode sinetron “Dunia Terbalik”. Tapi apa boleh buat, mengingatkan lewat suara di persimpangan dan tilang bukanlah jalan keluar yang tepat.
Polisi, wabilkhusus Polres Pekalongan Kota, mungkin perlu memikirkan untuk menobatkan Bunda Lalu Lintas. Dan Inggit Soraya, istri walikota itu, bisa menjadi kandidat terkuatnya.
#3 Bunda Sungai
Kota Pekalongan memiliki sungai yang terkenal dan fenomenal, meski itu bagi masyarakatnya sendiri. Sayangnya, Kota Pekalongan dijuluki Kota Batik bukan Kota Sungai. Dan kalau dilihat sepintas saja, sungai di Kota Pekalongan tampak tercemar—tanpa perlu berenang di sana.
Selain berasal dari limbah industri kreatif yang diakui UNESCO, pencemaran sungai juga berasal dari sampah. Meski sering diperingatkan, membuang sampah ke sungai ini terlanjur menjadi semacam tradisi yang susah dihilangkan.
BACA JUGA: Memaklumi Biaya Penanganan Rob Pekalongan yang Sampai Triliunan
Peringatan bukan hanya datang dari plang dan spanduk besar, melainkan datang pula dari warga lain, aktivis pecinta sungai, aktivis lingkungan, kedinasan, walikota, serta anggota tamtama. Namun, sekali lagi, nasehat-nasehat mereka masih kalah dari nasehat seorang ibu. Terang saja dibutuhkan seorang Bunda Sungai.
Untuk menjadi seorang Bunda Sungai mesti orang yang berpengaruh. Kalau di Kota Batik bisa dari pejabatnya. Istri walikota adalah calon yang prestisius untuk menyandang tugas tersebut. Ihwal siapa yang akan menobatkan, itu bisa dari aktivis yang pernah nyemplung langsung ke sungai, biar lebih afdol.
#4 Bunda Medsos
Anak kecil sekarang ini sudah pegangan hp. Bahkan anak-anak yang baru berseragam putih merah sanggup berkenalan dengan seseorang di medsos, lalu diajaknya kencan dan berpacaran.
Hal semacam itu sering kali luput. Pergulatan media sosial Kota Pekalongan juga tak cukup mendapat perhatian. Kelahiran netizen Pekalongan berwatak viking yang meresahkan pun kian tak terbendung.
Barangkali polisi siber belum membuka cabangnya di grup-grup yang isinya masyarakat Kota Pekalongan. Atau bisa jadi, jumlahnya yang aksesif maka berat untuk dikendalikan.
Artinya, Kota Pekalongan membutuhkan seseorang yang mampu menertibkan warganya di medsos. Tentu dengan cara-cara yang, tak hanya persuasif, tapi sekaligus welas asih. Penobatan Bunda Medsos ini bisa dicoba.
Istri Walikota Pekalongan itu, saya percaya, belio mampu mengemban tugas sebagai Bunda Medsos. Siapa yang menobatkannya? Buzze(Rp) paling moncer abad ini, Denny Siregar bisa tuh. Atau jika pengin dari pejabat plat merah, Menteri Kominfo, Jhonny G. Plate saya yakin bisalah, iya kan, Pak Plate?
Ummm… ngomong-ngomong, kalau ada rekrutmen petugas Dinarpus, Insya Allah saya siap, Bu~
BACA JUGA Tulisan-tulisan menarik Muhammad Arsyad lainnya.