KOTOMONO.CO – Selain nama Sampangan itu sendiri yang memiliki sejarah, ada beberapa tempat lain di kelurahan ini yang juga memiliki kisah asal-usul sejarah yang menarik. Beberapa masih bisa kita temui sampai saat ini. Jadi di Kelurahan Sampangan ada 9 Nama tempat yang dulu sering disebut sebagai berikut :
1. Medelan

Kampung ini terletak di bagian paling selatan disebelah utara Jalan Kepatihan (sekarang Jalan Hayam Wuruk sebelah timur sungai) meliputi Sampangan Gang 10, 9, 8. Medelan (huruf e dibaca seperti ketika membaca kedelai) berasal dari kata medel yang berarti memberi warna pada batik. Istilah medel kini sudah jarang dipakai.
Baca juga : Sejarah Asal-usul Kelurahan Sampangan Kota Pekalongan
Medel menjadi mata pencaharian masyarakat di kampung tersebut pada masa lalu. Banyaknya masyarakat yang melakukan pekerjaan medel mengakibatkan kampung tersebut mendapatkan julukan Medelan.
2. Pecinan

Menilik dari kata dasarnya, Pecinan dapat diartikan sebagai tempat bermukimnya orang-orang Cina. Kawasan ini cukup luas karena meliputi wilayah Sampangan sampai sebagian Sugihwaras. Dimulai dari sebelah timur dan utara sungai Kupang sampai dengan Jalan Salak (Jalan Krimunan) dan sepanjang jalan Sultan Agung sampai dengan Jalan Hasanudin sampai jalan Kepatihan.
Ada beberapa kampung dikawasan ini antara lain Keplekan, Ketandan, Banjarsari dan Pintu Dalam. Dalam Staatblad Pemerintah Kolonial Hindia Belanda disebutkan bahwa kawasan ini memang diperuntukkan bagi kaum timur asing. Disebelah barat untuk masyarakat Cina dan sebelah timur untuk masyarakat Arab. Rumah-rumah ditata berbanjar rapi seperti pada umumnya kawasan pecinan diberbagai kota lainnya.
3. Keplekan
Keplekan adalah daerah disekitar Jalan Krimunan (sekarang Jalan Salak). Keplek dalam bahasa Jawa berarti judi, sehingga dapat keplekan dapat diartikan sebagai senang berjudi atau tempat berjudi. Dalam konteks ini dapat kita amati bahwa kawasan ini berada di daerah pecinan dimana masyarakatnya memiliki budaya berjudi yang kuat. Berbagai macam media judi digunakan, salah satunya adalah domino.
Baca juga : Sejarah Dan Asal-usul Nama Tempat di Krapyak Lor
Imbas dari adanya kawasan perjudian ini adalah banyaknya orang – orang yang berkerumun (krimum / krumun) di sepanjang jalan tersebut. Oleh karena itu jalan tersebut diberi nama jalan krimunan yang berarti berkerumun. Rumah-rumah disekitar jalan disebut dengan kampung krimunan.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa pada setiap perjudian sering terjadi keributan. Pada waktu itu aparat keamanan bertindak untuk menangkap orang-orang yang membuat keributan. Orang-orang yang dicari menyamar menjadi bagian dari kerumunan orang yang ke pasar agar tidak mudah
4. Pintu Dalam / Pintu Dalem

Kawasan pintu dalam/dalem adalah disepanjang Jalan Belimbing setelah melewati pertigaan dengan Jalan Jeruk. Sebutan sebagai pintu dalem disebabkan dialek melayu yang bercampur dengan dialek Belanda menyebutnya dengan dalem untuk mengucapkan kata dalam.
Pada masa itu kawasan ini adalah paling eksklusif. Sampai kini kita dapat melihat bangunan yang ada di situ sebagian besar adalah rumah yang bagus dan kokoh. Jalan blimbing di depan perumahan tersebut diberi pintu selebar dengan jalan. Pada waktu-waktu tertentu pintu dibuka dan ditutup. Dapat kita bayangkan betapa ekslusifnya kawasan tersebut.
5. Ketandan

Kawasan ini terletak disebelah selatan kali Kupang tepatnya di sekitar gereja Khatolik Santo Petrus. Tidak ada keterangan pasti mengapa mendapat nama ketandan. Namun apabila menilik dari makna katanya, ketandan berarti mendapatkan atau menjadi tanda atau secara luas dapat diartikan mendapatkan fasilitas yang lebih.
Baca juga : Sejarah Asal-usul Kelurahan Kandang Panjang Kota Pekalongan
Keberadaan kawasan ini memang menjadi ciri spesifik didaerah setempat yaitu adanya kelenteng, adanya gapura pecinan, gaya bangunan yang khas cina dan yang terakhir adalah adanya gereja tempat peribadatan orang Belanda yang beragama Khatolik. Kawasan ini sekarang menjadi daerah cagar budaya Kota Pekalongan
6. Banjarsari

Mirip dengan Banjarsih di seberangnya, Banjarsari memiliki makna banjar yang indah, permai atau damai. Ulasan mengenai pemberian nama banjar diungkap lebih lengkap pada Banjarsih di wilayah kelurahan Sugihwaras. Yang menarik dari kawasan ini adalah pemberian nama yang sangat Jawa walaupun berada di kawasan pecinan.
Hal ini mungkin disebabkan karena kawasan ini sudah ada sebelum penataan oleh pemerintah kolonial, atau mungkin karena adanya rasa toleransi yang tinggi antara masyarakat pecinan dengan masyarakat pribumi.
Keberadaan pasar Banjarsari sebagai pusat ekonomi yang didalamnya melibatkan berbagai kalangan terutama kaum pribumi memungkinkan sebagai pendorong adanya toleransi tersebut sehingga kawasan ini benar-benar menjadi kawasan yang sari/damai dari berbagai etnis yang bertemu.
Baca juga : Tinjauan Sejarah Asal-Usul Nama Kelurahan di Kota Pekalongan
Kawasan ini seringkali disebut dengan kawasan Sentiling. Pasar Banjarsari pun disebut dengan Pasar Sentiling. Beberapa narasumber menyebutkan istilah sentiling ini muncul sekitar tahun 1920-an. Berdasarkan beberapa arsip kolonial yang menyebut adanya kegiatan pasar malam yang dipusatkan di sekitar pasar Banjarsari. Kegiatan ini bertepatan dengan adanya peringatan 25 tahun Wilhelmina menjadi raja tahun 1923.
Dalam bahasa Belanda pasar malam disebut dengan Teentoonsteeling. Istilah tersebut mudah disebutkan oleh orang Belanda akan tetapi sulit bagi pribumi sehingga berubah istilah menjadi sentiling. Istilah sentiling ini muncul juga di beberapa daerah lain seperti Jakarta, Semarang dan Magelang yang dulu pernah menjadi tempat pasar malam.
7. Kebon Klapa
Kebon klapa terletak didaerah pinggiran sungai kupang sebelah barat kawasan Sampangan dan Medelan. Dapat dikatakan bahwa kawasan ini sebenarnya adalah bantaran sungai kupang. Karena kawasan ini banyak ditumbuhi pohon kelapa maka masyarakat menamainya dengan kebon klapa.
8. Jaratan / Pejaratan
Kawasan ini berada ditengah kampung Sampangan. Sesuai dengan namanya Jaratan berasal dari kata Pejaratan berarti tempat peristirahatan atau kuburan. Pada masa lalu di kawasan ini merupakan kuburan masyarakat kuno. Kini kuburan ini telah beralih menjadi kawasan pemukiman, Madrasah Salafiyah Islamiyah Sampangan dan kantor eks Kelurahan Sampangan.
Tidak diketahui pasti apakah kuburan ini dipindahkan (tulang belulang jasad) ke kuburan yang resmi atau langsung dijadikan pemukiman. Dengan diterbitkannya Besluit van den Resident van Pekalongan tanggal 25 Maret 1892 yang mengatur tentang Penguburan Pribumi dan Arab di Wilayah Pekalongan, disebutkan bahwa kuburan untuk muslim di kawasan perkotaan adalah kuburan Beji di Panjang dan kuburan di Sapuro.
Sejak saat itu dimungkinkan banyak kuburan desa yang tidak dipergunakan lagi dan dialih fungsikan.
9. Kampung ANIEM
Aniem adalah sebuah singkatan dari Algemene Netherlands Indische Elektriciteit Maskapij yaitu perusahaan listrik Hindia Belanda. Bangunan Aniem kini telah berubah menjadi PLN. Dulu setiap kali waktu berbuka, aniem turut serta memberikan tanda dengan membunyikan sirine yang suaranya dapat didengar hingga hampir seluruh kota.
Baca juga : Pabrik Limun Oriental, Tempat Wisata Nostalgia di Pekalongan
Kosakata Aniem diserap menjadi kosakata Anim dalam dialeg Bahasa Jawa ngoko yang biasa digunakan masyarakat Pekalongan terutama di kampung-kampung untuk menyebut Tiang Listrik yang menjulang tinggi untuk kabel bertegangan tinggi yang biasanya melintasi persawahan atau pemukiman warga. Menarik ya!
Salam Cinta Pekalongan
Sumber : Drs. Abdul Fatah bin Yasran, Agung Tjahjana – Mengungkap Asal-Usul Nama Kelurahan di Kota Pekalongan – KPAD Kota Pekalongan.