KOTOMONO.CO – Bahasan seputar fisik manusia memang selalu menarik untuk ditelusuri. Wajar saja, sebab dari sanalah perdebatan antara Kaum Adam dan Kaum Hawa menggelora. Sebagai pegiat media sosial, saya nggak kaget lagi ketika melihat postingan yang menampilkan makhluk indah nan rupawan, dengan kolom komentar yang dihiasi berbagai macam tudingan.
Kalimat seperti, “lu good looking, lu aman”, atau “cowok/cewek cuma mandang fisik”, hampir selalu hadir untuk meramaikan permasalahan yang sebenarnya nggak perlu dipermasalahkan.
Saya bisa menebak pihak mana yang melontarkan pernyataan bernada kekesalan tersebut, sebut saja kaum non good looking. Sesuai namanya, kaum ini berada di posisi yang berseberangan dengan kaum good looking, kaum yang mendapat pujian berkat tampilan fisiknya yang menawan.
Sebagai umat non good looking, saya merasa perseteruan ini merupakan wujud keresahan. Siapa yang nggak resah coba, melihat ada kaum yang diberkahi keindahan rupa dan sangat didukung semesta, sementara kita harus bersusah payah hanya untuk mendapatkan sapa.
Perlu digarisbawahi, keresahan ini nggak ditujukan kepada si good looking, tapi untuk pemujanya yang sering kali lupa bahwa ada golongan lain yang ingin mendapat perlakuan serupa. Lalu, apa salahnya?
Menyukai kaum good looking itu nggak salah
Saya pernah membaca salah satu komentar yang mencoba untuk menengahi perselisihan ini, kurang lebih begini, “manusia itu makhluk visual, jadi wajar kalo suka sama sesuatu yang indah dan cantik”, spontan saya menyetujui pernyataan ini, karena nyatanya memang begitu.
Nggak ada yang salah dari mengagumi sosok yang rupawan, saya pun demikian, termasuk si non good looking yang menuntut keadilan. Hal yang sangat wajar jika seseorang merasa tertarik pada lawan jenis yang good looking dan berangan-angan mendapat pasangan sepertinya.
Lagi pula kita nggak punya hak untuk membatasi kebebasan individu dalam menentukan kriteria rekan hidupnya, kan? Meski terkadang alasannya cukup untuk membuat saya senyum-senyum sendiri: memperbaiki keturunan. Saya tersenyum, karena saya pernah merencanakan hal yang sama. Kita kesampingkan dulu strategi transformasi keturunan ini.
Kalian perlu tahu info menarik ini! Ternyata memandang orang good looking itu nggak cuma untuk menyegarkan mata saja, lho. Dari yang saya baca di laman CNN Indonesia dalam artikel berjudul “Menatap Foto Pria Tampan Bermanfaat untuk Otak”, menatap wajah manusia rupawan bisa mendorong kita untuk lebih bekerja keras dan meningkatkan ingatan. Kurang apa lagi coba anugerah yang diberikan Tuhan kepada kaum yang satu ini.
BACA JUGA: Macam-macam Problematika yang Bikin Kamu Tetap Jomblo
Namun, kekaguman pada sosok good looking ini menjadi salah ketika ada perlakuan diskrimatif yang menyertainya. Banyak sekali curahan hati korban diskriminasi fisik yang saya baca di berbagai platform media sosial. Saat pertama kali membaca kisah-kisah nyesek nan mengundang emosi itu, saya hanya mengernyitkan dahi dan sesekali menggeleng-gelengkan kepala.
Jujur saja, meski tergolong non good looking, saya nggak pernah mengalami kejadian serupa selama ini. Dari kisah itu juga saya tahu bahwa pelakunya mayoritas berasal dari golongan yang tampilannya pas-pasan alias nggak good looking. Ya ngaca, dong!
Standar good looking yang melukai diri sendiri
Apa sih standar good looking yang kita pegang teguh selama ini? Untuk perempuan; harus putih, tinggi, langsing, rambut hitam panjang dengan bentuk wajah yang strategis, begitu kah? Jika iya, maka Mbak Kunti adalah wujud good looking yang hakiki dan abadi. Begitu pula dengan ketampanan laki-laki yang punya standarnya sendiri.
Meski banyak perlawanan yang menyatakan bahwa cantik dan tampan itu relatif, tapi kenyataannya terdapat kesamaan suara yang menentukan apa yang kita sebut sebagai standar good looking ini. Nggak heran kalo banyak produk kecantikan berlomba-lomba menawarkan hasil kulit putih sekaligus secerah masa depan Rafathar.
Melihat perjuangan segenap tenaga untuk mencapai titik kesetaraan dengan kaum good looking ini, saya mulai menyadari kalau sebenarnya kita sedang berusaha mengingkari standar yang kita buat sendiri. Kita menuntut untuk lebih diperhatikan oleh orang lain tanpa pandang tampang. Namun pada saat yang sama, terkadang kita seolah pilih-pilih kepada siapa kita ingin memandang.
Ironis memang. Seperti bumerang yang dilemparkan, standar good looking yang kita gaungkan malah membuat kita gelagapan karena nyatanya kita nggak mampu memenuhi persyaratan. Pada akhirnya, justru standar yang kita lahirkan inilah yang menyudutkan dan melukai kepercayaan diri kita.
Masih ada good-good lain yang bisa menutupi kekurangan fisik
Teruntuk kalian yang tergolong kaum non good looking, saya tahu, memang sulit menghadapi kenyataan yang mungkin dirasa nggak berpihak kepada kita. Tapi nggak perlu khawatir bestie, masih ada good-good lain yang bisa kita perjuangkan agar tampang kita termaafkan. Good rekening misalnya.
Good satu ini nggak perlu dipertanyakan lagi kemanjurannya. Kita hanya perlu bekerja keras bagai kuda, mencari lembaran rupiah sebanyak-banyaknya, dan menimbun kartu dari berbagai bank ternama. Dijamin, lawan jenis akan takluk dan bersedia menjadikan kita sebagai pasangan mereka.
BACA JUGA: Pembelaan untuk Kawula Fiksi yang Sering Disepelekan
Kalo belum mampu mencapai level good rekening, masih ada good paling mendasar dan tentunya lebih mudah dikuasai. Inilah good attitude. Good satu ini nggak perlu modal besar. Kita hanya perlu menjaga wibawa layaknya manusia yang sebaik-baiknya manusia.
Orang di sekitar kita akan kagum dengan kepiawaian kita dalam memanajemen tingkah laku dan mungkin saja menjadikan kita sebagai tolak ukur pribadi yang patut ditiru. Prediksi saya sih begitu. Entah bagaimana hasil nyatanya saya pun nggak tahu.
Lalu, bagaimana kalau nggak ada satu pun good yang bisa dicerna? Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan segera memberi hidayah.